Dalam sebuah video “The Secret” disana dijabarkan kalau kalimat positif memiliki kekuatan yang bisa mengubah apapun. Bahkan dalam cita-cita atau dream yang kita miliki, sebaiknya menggunakan kalimat positif tidak menggunakan kalimat negatif.
Contoh yang salah, “Saya tidak ingin hidup melarat atau susah” namun harus diganti menjadi “Saya ingin hidup kaya dan bahagia“.
Kalau anda baca berulang-ulang, ada power atau kekuatan yang berbeda dari kedua kata diatas. Pada saat membaca “tidak ingin hidup melarat” yang keluar dari otak kita mungkin gambaran orang gembel atau pengemis, namun saat membaca “ingin hidup kaya” yang terbesit di otak mungkin gambaran rumah dan mobil mewah.
Bagaimana bisa diterapkan untuk si kecil?
Gunakan kalimat positif untuk mengarahkan
“Jangan lari-lari di dapur, nanti jatuh !” mungkin kalimat ini sering papa dan mama ucapkan pada awalnya. Namun seiring dengan proses belajar kita waktu itu, kalimat-kalimat yang diucapkan menjadi berbeda :
“Jalan saja kalau di dapur, jalan saja ya..”
Hasilnya memang berbeda, anak kami yang belum bisa bicara lancar - waktu itu - lebih mudah mengerti instruksi dengan kalimat positif.
Beberapa contoh kalimat yang bisa diubah :
1. “Kalau nonton teletubbies jangan dekat-dekat”, menjadi :
“Kalau nonton, mundur lagi, duduk di sofa”
2. “Mainan jangan dimasukin mulut”, diubah menjadi :
“Yang boleh masuk ke mulut,makanan dan minuman”
3. “Kalau makan jangan tersisa, buang-buang nasi kan sayang !”, diubah menjadi
“Kalau makan sampai habis, nasinya biar ikut teman-temannya yang di perut”
Lebih mudah mencerna kalimat positif daripada kita mengatakan kalimat negatif + larangan, meskipun artinya sama.
Baca juga:
- Menyelesaikan dengan cepat itu perlu, namun gunakan jalan yang benar
- Apakah papa dan mama anda adalah pendukung keluarga anda dan pasangan?
- Membentuk karakter anak agar menjadi orang yang sukses
- 2 Cara sederhana agar keluarga penuh damai, bersilang atau menurun?
- Apa yang membuat orang berbahagia?
Kata kunci lain artikel ini:
Tags: kalimat positif, mengajar anak
Mungkin ini semacam hipnoparenting ya
akan aku terapkan dalam keseharianku mendidik Sekar
Ah, bagus banget mbak, memang mencerna pikiran dan kalimat positif lebih mudah dan menyenangkan
Bila dibumbui dg kata ‘jangan, tidak boleh, awas…’, anak menjadi takut u/ berbuat apapun dan senantiasa merasa was-was.
Postingnya keren, kayaknya kita sedang sehati nih…
wah bener banget nih
hrs coba diterapkan nih
waaaaa sipp nih infonya, segera deh saya terapin, secara selama ini masih nerapin yang serba panik & worry… hehheee.. jadi malu…
setuju saya akan hal ini… hanya saja saya sering kesulitan buat mencari kalimat atau kata2 positif sebagai gantinya…
maklumlah, sekolahnya di bawah pohon bambu…
Thanks a lot Papamama……berguna banget postingnya…(btw, namanya siapa sih?…lebih enak kalo bisa nyapa pake nama….hehehe)
@anny : tujuan akhir kami adl agar anak2 pun nantinya terbiasa utk berpikir & berkata-kata positif, bila mereka sering mendengar kata2 positif mk harapan kami hal-hal positif pula yg akan tertanam dlm otak & perilaku mrk, salam
@bintang timur : betul sekali mbak, lebih mudah mulut ini utk mengucapkan kata larangan “jangan atau tidak boleh..” daripada mengucapkan kalimat anjuran yang bernada positif.
Utk itu kami pun msh hrs terus membiasakan diri
@fandhie : betul sekali bro, dg terbiasa bicara positif bukan cuma anak yg memperoleh manfaat baiknya tp bermanfaat pula bg diri kita krn dg begitu kita akan terlatih utk sll berpikir positif dlm segala hal.
@suara hati : hehehe…panggil saja kami dengan sebutan papa atau mama, kami memang sengaja tidak menuliskan 1 nama diantara kami spy adil saja krn postingan ini dibuat oleh kami berdua secara bergantian, berdasarkan pengalaman2 kami membina rmh tangga tanpa ada maksud utk menggurui sedikit pun krn kami berdua pun msh hrs byk belajar ‘this isi just for sharing.’ Makasih ya dah berkunjung ke sini, salam
lihat kiri kanan jika ingin menyeberang jalan?
jika menyeberang lewat jembatan penyeberangan?
menurut mamadanpapa, yg mana harus disampaikan pd anak”
sebenarnya posting ini tak hanya bisa diterapkan untuk anak2, tapi secara umum jg bagus untuk kehidupan sehari2…
(jadi pingin tau sumbernya dari mana ya? wkwkwkwk)
@matanaga : hahaha…kedua kalimat tsb bagus & bernada positif, bila memang ada ya silahkan pakai jembatan penyebrangan namun bila ngga ada ya solusinya liat kanan kiri lah sblm menyebrang jalan, bukankah begitu?
@mputantular : (ngakak jg agh..) wkwkwkwk…makasih ya dah mampir ke sini
Seandainya semua org tua dinegeri ini melakukan spti ulasan drimu ini,tentunya masa dpn anak2 indonesia akan cerah dan energi positif akan mengantarkan kita ke masa dpan yg cerah :-)
Salam….
Saya ingin komentar disini…
Itu postif ga ya?
Hehehehe
Susahnya adalah kalo sudah terbiasa menyelipkan kata negatif dalam setiap kalimat, jd sudah jd kebiasaan.
Saya padahal jg pengennya mendidik anak tdk dgn banyak2 kata “jangan” tp saat udah kejadian, misalnya dia memukul-2……. yg refleks keluar adalah “jangan pukul-2 ya..” atau “gak boleh pukul-2…” padahal harusnya bisa saja diganti dengan “daripada mukul2, lebih baik dipeluk…” gitu kan ya? Hehehee…
Musti banyak2 latihan lagi nih……
great posting!
saya belum punya anak, tapi saya adalah salah satu produk negative words. thank God for people like you that remind me not to repeat the history…
semoga posting Anda berkesan untuk org lain, seperti posting ini berkesan untuk saya..
love and salam kenal!
visit also http://www.adeirra.com/blog
Tq..sudah mengingatkan…soalnya kita sering lupa dan slalu mengajarkan pada anak2 kita,larangan dan tekanan..hingga hasilnya jauh dari harapan..
Apa ada petunjuk yang lebih lengkap lagi ya tentang menggunakan kata positif ini, karena emank lagi butuh
bener banget ya, dan kalimat positif juga enak di dengar,lebih mengena ..thanks ilmunya
@nA : mari kita sama2 belajar bro, makasiih ya ats kunjungannya
@lata : bener mbak, awal2nya kami jg gitu koq, mang perlu proses utk membiasakan diri berbicara positif. salam kenal, makasih ya ud berkunjung ke sini
@aribicara : itu harapannya bro
@ayam : hehehe…positif, positif koq bro
makasiii ya atas kunjungannya
@zee : bener mbak, mesti byk latihan membiasakan diri, krn merubah kebiasaan yg ud berlangsung lama itu ga mudah, perlu proses
@adeirra : oke…lsg ke TKP!
@acut : sama2 cut, kami jg msh perlu byk belajar, makasii ya dah berkunjung ke sini
@huang : hehehe…petunjuk gimana ya? ya intinya sih, ‘ortu tdk sekedar memberikan larangan tp lbh pada mengarahkan agar anak bs mencerna perkataan ortunya’, kurang lebih begitu sih bro
@mrpsycho : betul bro, yg mendengar tidak panas kupingnya, dg demikian anak jg merasa dihargai oleh ortunya, makasiii jg ats kunjungannya
biasanya kalimat positif ini agak sulit untuk diterapin buat karakter melankolis yang terlalu sensitif. ini menurutku.
Wow !
Ini akan saya ingat, bukan cuma kalau punya anak nanti…
tapi juga dalam kehidupan sehari - hari.
salam,
EKA
Wah bagus banget sharingnya..
Walaupun saya belum jadi bapak (skalian promosi kalau masih single ah..) tapi sepertinya ini bekal yang bagus deh untuk ke depan..
Siapa coba coba yang ga kepingin kalau punya anak, anaknya jadi anak yang pinter & penuh dengan energi positif..
Dan ternyata memang dari ortu (atau calon ortu) dulu yang memulai
sebenarnya sudah pernah tau, tapi dalam praktiknya susah juga. kalo udah panik, yg ada cuman kalimat negatif, ck..ck..
makasih ya dah diingetin lagi. posting-an yg sangat bermanfaat.