adik-kakak-suka-bertengkar“Ma… mainanku diambil adik !”

Tak lama kemudian terdengar suara barang-barang dilempar dan teriakan tangisan dari si kecil, “waaaaaa…”

Begitulah kejadian yang sering papa dan mama alami… adik dan kakak suka bertengkar, terkadang masalah-masalah yang sepele menurut ukuran kami.

Bagaimana mengatasinya ?

Menghargai anak

Hal pertama yang perlu papa dan mama lakukan adalah menyadari pribadi anak. Lho itu kan cuma anak kecil? Betul, tapi perhatikan bahwa anak itu seperti busur panah, dia akan menjadi tajam, setajam bagaimana anda mendidiknya.

Kedua, masalah mainan bagi anak adalah masalah besar saat ini, memang itu masalah kecil bagi papa dan mama. Ah cuman mainan…. kakak ngalah dong! Memang ada saatnya bagi kakak untuk mengalah, namun ada saatnya papa dan mama perlu mengajari adik untuk menghargai barang milik kakak. Demikian juga sebaliknya.

Bila pertengkaran itu terjadi karena salah si adik, orang tua boleh meminta kakak untuk mengalah tapi bila sering dilakukan maka kakak akan berpikir bahwa orang tua lebih sayang adik daripada dirinya. Jadi bila salah adik, nasehatilah si adik dan bila melanggar aturan papa dan mama, beri hukuman si adik dengan berdiri di pojok dan meminta maaf kepada kakak.

Sering papa dan mama mengatakan, “Kalo adik nakal, maka adik dihukum berdiri di pojok. Kalau kakak yang nakal, kakak juga dihukum. Semua sama, yang nakal dihukum”

Ini selalu kami katakan agar adik kakak merasakan perlakuan yang adil dari papa dan mama.

Menghukum anak dan penyelesaian

Bila mama sedang memarahi si kakak, papa yang ada saat itu tidak membela si kakak dan tidak membela si adik, diam saja. Setelah selesai, ajaklah kakak untuk berbicara… berikan pengertian, “Mengapa mama tadi marah?”

Terkadang anak itu tidak tau, kenapa dia dimarahi lho ! Karna menurut sudut pandang dia, apa yang di lakukannya adalah benar dan tidak salah.

Ulangi kata-kata positif sebagai niat perbaikan dari si kecil. Orang tua yang membimbing, jangan menuntut anak anda mengatakan ini karena mungkin masih terlalu kecil, contoh SALAH:

“Besok kalau adik minta mainan, dipukul lagi?” ==> ini kata-kata NEGATIF dan SALAH! Karena anda mengungkit-ungkit lagi kesalahannya, seolah anda belum selesai memarahinya. Perbaiki dengan:

“Besok kalau adik minta mainan, berbagi ya?” atau

“Besok kalau adik minta mainan, boleh ya?” kalau dia keberatan, tanyain solusinya ke dia, misal

“Besok kalau adik minta mainan dikasih yang lain aja ya?”

Intinya dalam penyelesaian ini, anda mengatakan hal positif yang ingin si kecil lakukan, bukan hal NEGATIF yang dia TIDAK BOLEH lakukan.

Bagaimana agar mereka rukun? Heheheh… itu proses, pertengkaran anak biarlah menjadi proses bagi mereka untuk saling menghargai satu dengan yang lain dengan bimbingan anda sebagai orang tua.

Baca juga:

Kata kunci lain artikel ini:

Tags:

10 Responses to “Adik kakak suka bertengkar? Bagaimana mengatasinya?”

  1. asfan says:

    hmmm…psikologi anak, memang gampang - gampang susah memahami anak, kalu gak ngerti ilmunya :-bd

    oh ya boleh tukeran link ya?

  2. uni says:

    makasi papadanmama ^_^ :-bd

  3. bintangtimur says:

    Apa kabar, mbak? Sehat kan?
    Pertengkaran anak mungkin juga akan jadi pembelajaran agar kelak mereka menjadi orang yang berjiwa besar :)

  4. Haduh persis keaadaanku saat kecil :-?

  5. anny says:

    Hai papa, mama apa khabar? kangeeennnnn :)
    Kisah setelah pertengkaran kakak adik diatas memberi contoh kepada anak untuk diskusi dan musyawarah untuk selesaikan masalah ya , Nice ma, pa :D

  6. miyosi says:

    jadi keinget ponakan saya yg hanya beda setahun dan suka berantem :D

  7. terapi anak says:

    TERAPI ANAK EMOSIONAL ( PEMARAH )
    Emosi adalah merupakan gejala kejiwaan yang tidak bisa diredam seketika. Emosi dapat dikendalikan dengan jalan menahan diri dan menguasainya. Penguasaan diri sebaiknya dilatihkan orang tua pada anak, sebab ini penanganan yang paling tepat. Tidak mungkin ayah dan ibunya bisa menghentikan dengan mengandalkan kekuatannya. Emosi yang dikendalikan dari dalam diri adalah yang paling bagus, sedang pengendalian dari luar justru membuat anak jadi tertekan dan jiwanya bergolak, bisa-bisa kepribadiannya pecah. Karena itu orang tua harus berhati-hati. Buatlah si anak mampu mengerem sendiri semua gejolak yang menyerang jiwanya.

    Mengapa anak bersifat emosional ?

    Seorang anak akan berontak sebagai pelampiasannya terhadap larangan-larangan orang tuanya. Misalnya anak yang dilarang bermain, anak pasti akan berontak. Suka bermain adalah sifat anak, yang fitrah. Orang tua dan para guru harus peka memperhatikan masalah ini. Jangan suka melarang anak untuk tidak bermain sepanjang itu tidak membahayakan dirinya. Arena yang membahayakan bisa dialihkan dengan kegiatan yang mengandung tantangan tapi mempunyai nilai pendidikan yang bagus. Hal ini juga telah kami paparkan diatas.

    Apa Penyebab Emosional Anak ?

    Banyak faktor yang menyebabkan anak menjadi emosional, antara lain ;

    1. Iri Hati Dan Cemburu.
    Orang tua yang tidak menunjukan kasih sayang dan perhatian yang sama terhadap anak-anaknya dapat memicu kecemburuan anak. Perlakuan yang tidak adil akan memercikan amarah seorang kakak terhadap adiknya atau sebaliknya. Agama memberikan perintah agar dalam memberi sesuatu, orang tua harus bersikap adil.

    2. Keusilan Saudara Atau Temannya.
    Keusilan saudara atau temen-temannya akan membuat si anak marah-marah. Agar tidak terjadi keributan yang lebih lanjut, sebaiknya ia dipisahkan dengan teman-temannya yang suka mengganggu.

    3. Meniru Sikap Ayah - Ibunya.
    Orang tua yang emosional secara otomatis membawa ke arah sifat yang sama. Menahan diri dan berakhklan sabar merupakan akhklak yang harus diteladankan orang tua terhadap anak-anaknya sebagai suatu pengajaran akhklak dan kepribadian.

    4. Beban Melebihi Kapasitas.
    Jangan memberi tugas yang melampaui batas pada buah hati Anda. Tidak akan menghasilkan sesuatupun kecuali ketidaktaatan semata. Marah yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya penyakit jantung dan hipertensi.

    Jika anak menangis yang berlebihan, dengan “kelosotan di lantai”, lalu mencakari muka dan tubuhnya, “demonstrasi” semacam ini harus segera dihentikan. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter kejiwaan anak. Cara ini sangat baik dalam mengatasi putra-putri Anda secara tepat.

    Ada kalanya, marah sambil menangis itu merupakan cara dia untuk merajuk agar yang diinginkannya terraih. Kita harus waspada, merajuk seperti itu tidaklah selalu kita toleransi. Dengan tidak selalu menuruti rengekkannya, maka sifat merajuk seperti itu akan berhenti dengan sendirinya.

    Walaupun watak marah itu tidak bagus, tapi jangan dipadamkan sama sekali. Amarah sebagai gejala kejiwaan yang umum tetap dibutuhkan oleh manusia. Penanganan yang baik adalah dengan melatih si anak mengendalikan diri agar tidak berlebih-lebihan. Bahkan jika anak kita memiliki temperament seperti itu, kita dapat menyalurkannya ke fungsi-fungsi yang tepat, misalnya ; untuk membela kehormatan diri dan sebagainya.

    ” Waspadalah kalian terhadap amarah, sesungguhnya ia adalah bara api yang menyala di hati keturunan Adam. Tidaklah Anda melihat kepada seseorang diantara kamu bila ia marah bagaimana matanya menjadi merah dan urat-urat lehernya tegang. Dan bila seseorang akan marah, hendaklah berbaring atau menempelkan dirinya ke tanah.”

    @@@@@

  8. makasih mama dan ayah :-bd

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D =)) :-? :-bd :D/ =D) :] :(|) ~O) ):D( :-j :)) :-?? more »